{"id":2663,"date":"2026-05-08T14:17:50","date_gmt":"2026-05-08T14:17:50","guid":{"rendered":"https:\/\/jalaina.id\/?p=2663"},"modified":"2026-05-12T01:37:14","modified_gmt":"2026-05-12T01:37:14","slug":"setelah-menonton-pesta-babi-di-ambon-inilah-suara-kami-dari-maluku","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jalaina.id\/en\/setelah-menonton-pesta-babi-di-ambon-inilah-suara-kami-dari-maluku\/","title":{"rendered":"Setelah Menonton Pesta Babi di Ambon: Inilah Suara Kami dari Maluku"},"content":{"rendered":"<p><strong>Jala Ina &#8211;<\/strong> Sabtu malam di Ambon terasa berbeda. Di sebuah ruang sederhana milik Jala Ina, sekitar 50 anak muda berkumpul untuk menonton film dokumenter Pesta Babi karya Dandhy Laksono. Film berdurasi sekitar satu setengah jam itu bukan sekadar tontonan. Ia menjadi pemantik percakapan panjang tentang tanah, kekuasaan, ketidakadilan, dan masa depan wilayah timur Indonesia.<\/p>\n\n\n\n<p>Diskusi berlangsung hingga pukul 23.00 WIT. Tidak ada moderator formal yang membatasi arah pembicaraan. Semua orang boleh bicara. Semua orang boleh gelisah. Dan dari ruangan kecil itu, saya justru melihat sesuatu yang penting: pemuda-pemudi Ambon ternyata sangat kritis.<\/p>\n\n\n\n<p>Selama ini, banyak orang membayangkan anak muda di daerah kepulauan hanya sibuk dengan kegiatan di pulau, jauh dari diskursus besar tentang pembangunan dan politik. Namun malam itu memperlihatkan hal sebaliknya. Mereka memahami bagaimana eksploitasi sumber daya bekerja. Mereka sadar bagaimana konflik sering digunakan untuk memecah masyarakat. Mereka mempertanyakan arah pembangunan yang terlalu berpusat pada proyek-proyek simbolik, tetapi melupakan pendidikan dan kebutuhan dasar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-gallery has-nested-images columns-default is-cropped wp-block-gallery-1 is-layout-flex wp-block-gallery-is-layout-flex\">\n<figure class=\"wp-block-image aligncenter size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"683\" data-id=\"2665\" src=\"https:\/\/jalaina.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/DSC00682-1-1024x683.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-2665\" srcset=\"https:\/\/jalaina.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/DSC00682-1-1024x683.jpg 1024w, https:\/\/jalaina.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/DSC00682-1-300x200.jpg 300w, https:\/\/jalaina.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/DSC00682-1-768x512.jpg 768w, https:\/\/jalaina.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/DSC00682-1-1536x1024.jpg 1536w, https:\/\/jalaina.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/DSC00682-1-2048x1365.jpg 2048w, https:\/\/jalaina.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/DSC00682-1-18x12.jpg 18w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\"><em>Yusuf Sangadji (Direktur Eksekutif Jala Ina) bersama Fery Rangi (Akademisi IAKN Ambon) sebagai pemantik diskusi pasca nonton bareng film Pesta Babi. (Foto: Jala Ina)<\/em><\/figcaption><\/figure>\n<\/figure>\n\n\n\n<p>Salah satu pembicara, Pak Yusuf, mengingatkan kembali tentang makna sasi dan konservasi dalam budaya Maluku. Bahwa hubungan manusia dengan alam sebenarnya sudah lama diatur melalui pengetahuan lokal. Laut, hutan, dan tanah bukan sekadar komoditas ekonomi, tetapi ruang hidup yang dijaga bersama. Perspektif ini menjadi sangat relevan ketika film Pesta Babi memperlihatkan bagaimana tanah adat di Papua diperlakukan seolah-olah kosong dan siap dieksploitasi.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Papua bukan tanah kosong,&#8221; menjadi pesan yang terasa kuat malam itu.<\/p>\n\n\n\n<p>Namun refleksi kami tidak berhenti di Papua. Karena sesungguhnya Maluku juga menghadapi ancaman yang mirip: eksploitasi sumber daya, ketimpangan pembangunan, dan lemahnya posisi masyarakat lokal dalam menentukan masa depan wilayahnya sendiri.<\/p>\n\n\n\n<p>Pak Ferry dalam diskusi menyebut istilah &#8220;perlawanan kelas&#8221;. Ia mengingatkan bahwa perjuangan tidak cukup hanya dibicarakan di kota-kota, sementara masyarakat yang paling terdampak justru tidak ditemui dan tidak dilibatkan. Kritik itu terasa tajam, tetapi penting. Terlalu sering gerakan sosial berhenti di ruang seminar, media sosial, atau diskusi intelektual, tanpa benar-benar membangun gerakan bersama masyarakat akar rumput.<\/p>\n\n\n\n<p>Saya ingin menyampaikan refleksi sederhana tetapi terasa kuat tentang keserakahan dan gaya hidup sehari-hari. Mulai dari konsumsi BBM, kebiasaan berkendara, hingga belanja tanpa memikirkan sampah kemasan. Bahwa krisis lingkungan ternyata bukan hanya soal perusahaan besar dan negara, tetapi juga tentang pilihan hidup kita sendiri.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-gallery has-nested-images columns-default is-cropped wp-block-gallery-2 is-layout-flex wp-block-gallery-is-layout-flex\">\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"683\" data-id=\"2666\" src=\"https:\/\/jalaina.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/DSC00659-1024x683.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-2666\" srcset=\"https:\/\/jalaina.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/DSC00659-1024x683.jpg 1024w, https:\/\/jalaina.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/DSC00659-300x200.jpg 300w, https:\/\/jalaina.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/DSC00659-768x512.jpg 768w, https:\/\/jalaina.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/DSC00659-1536x1024.jpg 1536w, https:\/\/jalaina.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/DSC00659-2048x1365.jpg 2048w, https:\/\/jalaina.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/DSC00659-18x12.jpg 18w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\"><em>Suasana nonton bareng film Pesta Babi (Foto: Jala Ina)<\/em><\/figcaption><\/figure>\n<\/figure>\n\n\n\n<p>Diskusi malam itu juga memperlihatkan kegelisahan generasi muda terhadap akses pendidikan dan lapangan pekerjaan di kawasan timur Indonesia. Kapitalisme disebut sebagai sistem yang membuat banyak anak muda sulit membangun kehidupan yang layak di daerahnya sendiri. Akibatnya, banyak yang terpaksa pergi meninggalkan pulau-pulau kecil demi bertahan hidup. Namun di tengah berbagai kritik tersebut, ada harapan yang tumbuh.<\/p>\n\n\n\n<p>Pak Yusuf mengatakan bahwa perbedaan adalah sesuatu yang harus dipelihara, dan Jala Ina ingin menjadi ruang terbuka bagi siapa saja. Sementara Pak Ferry mengutip Tan Malaka: &#8220;Terbentur, terbentur, terbentur, lalu terbentuk.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p>Kalimat itu terasa sangat relevan bagi anak muda Maluku hari ini.<\/p>\n\n\n\n<p>Karena berpikir kritis saja tidak cukup. Kritik harus dibawa menjadi aksi yang konkret dan berkelanjutan: membangun komunitas, mengorganisir masyarakat, memperkuat pendidikan, menjaga ruang hidup, dan memastikan suara dari wilayah kepulauan tidak terus dipinggirkan.<\/p>\n\n\n\n<p>Kami hidup di sini. Kami menjaga laut dan pulau-pulau ini. Dan kami ingin ikut menentukan masa depannya.<\/p>\n\n\n\n<p>Inilah suara kami dari Maluku.<\/p>\n\n\n\n<p><strong><em>Penulis: Kristanto Irawan Putra <\/em><\/strong><em>(Salah seorang staf di NGO bidang lingkungan hidup)<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n\n\n\n<p><\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jala Ina &#8211; Sabtu malam di Ambon terasa berbeda. Di sebuah ruang sederhana milik Jala Ina, sekitar 50 anak muda [&hellip;]<\/p>","protected":false},"author":2,"featured_media":2667,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_uag_custom_page_level_css":"","site-sidebar-layout":"default","site-content-layout":"","ast-site-content-layout":"default","site-content-style":"default","site-sidebar-style":"default","ast-global-header-display":"","ast-banner-title-visibility":"","ast-main-header-display":"","ast-hfb-above-header-display":"","ast-hfb-below-header-display":"","ast-hfb-mobile-header-display":"","site-post-title":"","ast-breadcrumbs-content":"","ast-featured-img":"","footer-sml-layout":"","ast-disable-related-posts":"","theme-transparent-header-meta":"","adv-header-id-meta":"","stick-header-meta":"","header-above-stick-meta":"","header-main-stick-meta":"","header-below-stick-meta":"","astra-migrate-meta-layouts":"default","ast-page-background-enabled":"default","ast-page-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"ast-content-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"footnotes":""},"categories":[31,38],"tags":[89,97,29,30,87],"class_list":["post-2663","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-publikasi","category-artikel","tag-ambon","tag-film-pesta-babi","tag-kawasan-timur-indonesia","tag-pesisir-dan-pulau-pulau-kecil","tag-pulau-kecil"],"uagb_featured_image_src":{"full":["https:\/\/jalaina.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/DSC00665-scaled.jpg",2560,1707,false],"thumbnail":["https:\/\/jalaina.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/DSC00665-150x150.jpg",150,150,true],"medium":["https:\/\/jalaina.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/DSC00665-300x200.jpg",300,200,true],"medium_large":["https:\/\/jalaina.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/DSC00665-768x512.jpg",768,512,true],"large":["https:\/\/jalaina.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/DSC00665-1024x683.jpg",1024,683,true],"1536x1536":["https:\/\/jalaina.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/DSC00665-1536x1024.jpg",1536,1024,true],"2048x2048":["https:\/\/jalaina.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/DSC00665-2048x1365.jpg",2048,1365,true],"trp-custom-language-flag":["https:\/\/jalaina.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/DSC00665-18x12.jpg",18,12,true]},"uagb_author_info":{"display_name":"Admin","author_link":"https:\/\/jalaina.id\/en\/author\/admin\/"},"uagb_comment_info":0,"uagb_excerpt":"Jala Ina &#8211; Sabtu malam di Ambon terasa berbeda. Di sebuah ruang sederhana milik Jala Ina, sekitar 50 anak muda [&hellip;]","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jalaina.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2663","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jalaina.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jalaina.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jalaina.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jalaina.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2663"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/jalaina.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2663\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2673,"href":"https:\/\/jalaina.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2663\/revisions\/2673"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jalaina.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2667"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jalaina.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2663"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jalaina.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2663"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jalaina.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2663"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}