{"id":1,"date":"2025-05-15T03:12:00","date_gmt":"2025-05-15T03:12:00","guid":{"rendered":"http:\/\/jalaina.id\/?p=1"},"modified":"2026-04-03T02:32:08","modified_gmt":"2026-04-03T02:32:08","slug":"riset-jala-ina-sebut-tutupan-terumbu-karang-hidup-menyusut-drastis-di-bawah-5-alarm-bahaya-dari-laut-liang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jalaina.id\/en\/riset-jala-ina-sebut-tutupan-terumbu-karang-hidup-menyusut-drastis-di-bawah-5-alarm-bahaya-dari-laut-liang\/","title":{"rendered":"Riset Jala Ina Sebut Tutupan Karang Hidup Menyusut Drastis di Bawah 5%: Alaram Bahaya Dari Laut Negeri Liang, Maluku Tengah"},"content":{"rendered":"<p><strong>JALA INA<\/strong> &#8211; Hasil riset yang dilakukan oleh Jala Ina pada Februari 2025 menunjukkan bahwa kondisi terumbu karang di perairan Negeri Liang berada dalam situasi yang sangat mengkhawatirkan. Penelitian yang dilakukan di tiga stasiun pengamatan menggunakan metode Underwater Photo Transect (UPT) mengungkap bahwa rata-rata tutupan karang hidup di bawah 5%, dengan rincian 2,01% di stasiun 1, 1,09% di stasiun 2, dan 3,01% di stasiun 3. Berdasarkan standar Kementerian Lingkungan Hidup (Keputusan Menteri LH No. 4 Tahun 2001), angka ini masuk dalam kategori buruk.<\/p>\n\n\n\n<p>Substrat dominan yang ditemukan dalam survei berupa puing karang (rubble), pasir, dan batu, menandakan degradasi struktural pada ekosistem terumbu karang. Hal ini mencerminkan dampak dari aktivitas manusia yang merusak lingkungan laut, seperti penangkapan ikan menggunakan bom dan racun, serta lemahnya pengawasan terhadap praktik-praktik tersebut.<\/p>\n\n\n\n<p>Menurut M. Yusuf Sangadji, peneliti Jala Ina, temuan ini harus menjadi peringatan bagi semua pihak.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cData ini adalah sinyal peringatan. Terumbu karang yang rusak tidak hanya kehilangan fungsi ekologis, tetapi juga mempengaruhi keberlangsungan ekonomi masyarakat pesisir,\u201d ujarnya dalam forum diseminasi yang diselenggarakan di Kantor Negeri Liang, 15 Mei 2025.<\/p>\n\n\n\n<p>Hasil riset ini diperkuat dengan testimoni masyarakat Negeri Liang. Armin Lessy salah satu warga Liang mengatakan jika dulu nelayah masih bisa menangkap ikan di dekat pantai, namun sejak terumbu karang rusak ikan sudah sulit untuk didapat.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cTahun 90-an katong masih bisa ambel ikan di pante, sekarang su susah. Untuk itu katong perlu pemulihan terumbu karang, dan solusinya harus ada Perneg (Peraturan Negeri) yang mengatur.\u201d ujarnya.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image\" id=\"attachment_5997\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jaringnusa.id\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/ay.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-5997\"\/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Peta lokasi penelitian tutupan karang di Negeri Liang. (Peta: Jala Ina)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p><strong>Ruang Reflektif<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Kegiatan diseminasi ini menjadi ruang reflektif sekaligus deklarasi komitmen lintas sektor. Kepala Pemerintahan Negeri Liang, Taslim Samual, menyatakan bahwa diseminasi riset ini diharapkan menjadi langkah awal pembangunan dalam pemulihan terumbu karang di wilayahnya. Ia menegaskan kesiapan pemerintah negeri untuk mendukung upaya konservasi yang berbasis adat dan ilmiah.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cDiseminasi riset ini diharapkan agar menjadi langkah awal pembangunan dalam pemulihan terumbu karang di Negeri Liang. Kami akan sangat mendukung,\u201d ujarnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Dari sisi akademisi, Dr. M. Sangadji dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Pattimura, menyampaikan bahwa pemulihan terumbu karang sangat penting untuk mengembalikan kehidupan masyarakat seperti dahulu kala, ketika hasil tangkapan laut melimpah dan mudah diperoleh.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cDari kampus, kami siap membantu Bapak\/Ibu dalam merehabilitasi terumbu karang di Negeri Liang,\u201d ujarnya.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image\" id=\"attachment_5998\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jaringnusa.id\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/az.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-5998\"\/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Forum diseminasi yang diselenggarakan di Kantor Negeri Liang, 15 Mei 2025. (Foto: Jala Ina)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p>Sementara itu, O. Z. Tihurua, M.Si, peneliti masyarakat pesisir, menekankan bahwa degradasi lingkungan laut juga dipicu oleh perubahan cara pandang masyarakat terhadap laut.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKerusakan terumbu karang terjadi karena laut tak lagi dipandang sebagai sumber kehidupan. Untuk itu, mari kita ubah cara pandang dan kembali melihat laut sebagai sesuatu yang penting,\u201d ajaknya.<\/p>\n\n\n\n<p>Apresiasi juga datang dari Ray T., perwakilan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Maluku. Ia mengakui pentingnya peran lembaga masyarakat sipil dalam menjangkau realitas lapangan.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKami mengapresiasi program Jala Ina ini karena DKP tidak punya jangkauan yang luas untuk mengetahui langsung masalah yang dihadapi masyarakat pesisir,\u201d tuturnya.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Rekomendasi Pemulihan<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Sebagai tindak lanjut, Jala Ina merekomendasikan strategi pemulihan ekosistem laut yang meliputi rehabilitasi terumbu karang, penguatan pengelolaan laut berbasis adat (sasi) dan peraturan negeri, penegakan hukum terhadap praktik destruktif, serta pemantauan rutin berbasis partisipasi. Upaya adaptasi terhadap perubahan iklim seperti penghijauan pesisir dan edukasi lingkungan juga menjadi bagian dari strategi jangka panjang.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image\" id=\"attachment_5999\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jaringnusa.id\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/azz.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-5999\"\/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Upaya rehabilitasi terumbu karang yang dilakukan oleh Jala Ina di Negeri Liang. (Foto: Jala Ina)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p>Komitmen ini tidak hanya berhenti pada rekomendasi. Sebagai langkah konkret, Jala Ina telah memulai program rehabilitasi dengan memasang 20 unit bank karang (struktur buatan untuk transplantasi karang) di wilayah perairan Negeri Liang. Inisiatif ini diharapkan menjadi pemicu semangat gotong royong dan kolaborasi lintas sektor dalam menjaga ekosistem laut.<\/p>\n\n\n\n<p>Diseminasi ini bukanlah akhir, tetapi awal dari konsolidasi gerakan kolektif untuk mengembalikan laut sebagai ruang hidup yang sehat dan produktif. Terumbu karang adalah fondasi bagi ketahanan pangan, ekonomi, dan budaya masyarakat pesisir \u2014 pemulihannya adalah investasi untuk masa depan Negeri Liang dan generasi mendatang.<\/p>\n\n\n\n<p>Foto utama: Kondisi terumbu karang di Negeri Liang. (Foto: Jala Ina)<\/p>\n\n\n\n<p><\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JALA INA &#8211; Hasil riset yang dilakukan oleh Jala Ina pada Februari 2025 menunjukkan bahwa kondisi terumbu karang di perairan [&hellip;]<\/p>","protected":false},"author":1,"featured_media":1859,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_uag_custom_page_level_css":"","site-sidebar-layout":"default","site-content-layout":"","ast-site-content-layout":"default","site-content-style":"default","site-sidebar-style":"default","ast-global-header-display":"","ast-banner-title-visibility":"","ast-main-header-display":"","ast-hfb-above-header-display":"","ast-hfb-below-header-display":"","ast-hfb-mobile-header-display":"","site-post-title":"","ast-breadcrumbs-content":"","ast-featured-img":"","footer-sml-layout":"","theme-transparent-header-meta":"","adv-header-id-meta":"","stick-header-meta":"","header-above-stick-meta":"","header-main-stick-meta":"","header-below-stick-meta":"","astra-migrate-meta-layouts":"default","ast-page-background-enabled":"default","ast-page-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"ast-content-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"footnotes":""},"categories":[31,39],"tags":[30,32],"class_list":["post-1","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-publikasi","category-rilis","tag-pesisir-dan-pulau-pulau-kecil","tag-terumbu-karang"],"uagb_featured_image_src":{"full":["https:\/\/jalaina.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/ax-1024x579-1.webp",1024,579,false],"thumbnail":["https:\/\/jalaina.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/ax-1024x579-1-150x150.webp",150,150,true],"medium":["https:\/\/jalaina.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/ax-1024x579-1-300x170.webp",300,170,true],"medium_large":["https:\/\/jalaina.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/ax-1024x579-1-768x434.webp",768,434,true],"large":["https:\/\/jalaina.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/ax-1024x579-1.webp",1024,579,false],"1536x1536":["https:\/\/jalaina.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/ax-1024x579-1.webp",1024,579,false],"2048x2048":["https:\/\/jalaina.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/ax-1024x579-1.webp",1024,579,false],"trp-custom-language-flag":["https:\/\/jalaina.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/ax-1024x579-1.webp",18,10,false]},"uagb_author_info":{"display_name":"Admin","author_link":"https:\/\/jalaina.id\/en\/author\/halidevs00gmail-com\/"},"uagb_comment_info":0,"uagb_excerpt":"JALA INA &#8211; Hasil riset yang dilakukan oleh Jala Ina pada Februari 2025 menunjukkan bahwa kondisi terumbu karang di perairan [&hellip;]","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jalaina.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jalaina.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jalaina.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jalaina.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jalaina.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/jalaina.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2633,"href":"https:\/\/jalaina.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1\/revisions\/2633"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jalaina.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1859"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jalaina.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jalaina.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jalaina.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}